Hari TV Sedunia: Kilas Balik Era 80an-2000an
Fajar - Friday, 21 November 2025 | 09:00 PM


Gudnus - Coba deh, pejamkan mata sejenak, terus bayangin masa kecilmu. Apa yang terlintas? Mungkin bau masakan ibu, suara azan dari masjid kompleks, atau mungkin, siaran televisi yang lagi muter kartun Minggu pagi? Gak bisa dipungkiri, televisi punya tempat yang lumayan spesial di benak banyak orang, apalagi buat generasi 80-an, 90-an, sampai awal 2000-an. Nah, pas banget nih, tanggal 21 November setiap tahunnya kita memperingati Hari Televisi Sedunia. Sebuah hari untuk mengenang, merefleksikan, dan mungkin sedikit menghela napas panjang melihat perjalanan kotak ajaib ini.
Dulu, televisi itu ibarat raja di ruang keluarga. Posisinya strategis, menghadap sofa, dan dikerubuti setiap anggota keluarga. Remote control-nya adalah pusaka yang dipegang erat-erat sama bapak, dan jadwal tayangnya itu sakral, lebih dari jadwal rapat kantor. Tapi coba lihat sekarang? Televisi masih ada, sih, nangkring di dinding ruang tengah, tapi apakah dia masih jadi primadona? Atau jangan-jangan, dia cuma jadi latar belakang aja buat drama kehidupan kita yang lebih sering tertuju ke layar smartphone?
Dulu, TV Adalah Jendela Dunia yang Sesungguhnya
Bayangin, di era sebelum internet merajalela, televisi adalah satu-satunya sumber informasi dan hiburan massal yang bisa diakses dengan mudah. Mau tahu berita dunia? Nonton TVRI atau RCTI. Mau ketawa-ketawa? Ada sitkom atau program komedi. Mau nangis Bombay? Sinetron malam siap menemani. Bahkan, iklan-iklan jadul pun hafal di luar kepala saking seringnya diputar. Ingat kan, momen heboh saat siaran TV berwarna pertama kali muncul? Atau saat harus muter-muter antena biar gambarnya gak semut semua? Ah, bikin kangen aja!
Televisi zaman dulu itu bukan cuma sekadar alat, tapi juga semacam magnet sosial. Nonton bola bareng tetangga, ngumpul buat nonton film laga yang ditayangin setiap libur Lebaran, atau rebutan channel sama adik cuma buat nonton kartun favorit. Momen-momen itu, entah sadar atau enggak, ikut membentuk memori kolektif kita, menciptakan jembatan komunikasi antar-generasi, dan jadi topik obrolan di meja makan. Dari sana kita belajar tentang budaya lain, tentang kejadian-kejadian penting di negara ini, bahkan tentang cara hidup yang berbeda. Televisi adalah guru, pendongeng, dan sahabat setia.
Transformasi yang Bikin Geleng-geleng Kepala
Seiring berjalannya waktu, teknologi itu seperti kereta api yang gak pernah berhenti. Televisi juga ikut beradaptasi, berevolusi, bahkan mungkin ‘bermetamorfosis’. Dari yang dulunya tabung gede segede kulkas kecil, sekarang udah jadi layar tipis nan elegan, bahkan bisa jadi smart TV yang nyambung internet. Kualitas gambarnya dari analog ke digital, dari SD ke HD, bahkan sekarang udah 4K atau 8K yang detailnya bikin mata melongo.
Tapi evolusinya gak cuma di fisiknya doang. Yang paling signifikan justru ada di kebiasaan penonton. Dulu kita dipaksa ikut jadwal TV, sekarang kita yang mengatur jadwal tontonan kita sendiri. Lahirnya internet, platform streaming kayak Netflix, Disney+, YouTube, sampai aplikasi video pendek macam TikTok, itu ibarat banjir bandang yang menerjang dominasi televisi konvensional. Konten jadi personal, sesuai selera, dan bisa diakses kapan aja di mana aja. Dari laptop, tablet, bahkan cukup dari layar HP di genggaman.
Banyak yang bilang, televisi itu udah ‘mati’. Apalagi generasi Z dan milenial muda, mungkin lebih akrab sama istilah “creator” atau “influencer” daripada “penyiar berita” atau “aktor sinetron”. Waktu yang dihabiskan di depan TV konvensional jauh berkurang, tergantikan scrolling feed media sosial atau maraton serial di layanan streaming favorit. Tapi, apakah benar televisi sudah tamat riwayatnya?
Televisi Belum Habis, Justru Beradaptasi
Jangan salah sangka, walaupun diterjang gempuran digital, televisi itu belum habis bensin. Dia cuma sedang beradaptasi, bertransformasi, dan mencari relevansinya di era yang serba cepat ini. Contoh paling konkret? Berita. Di saat-saat genting, seperti bencana alam, pandemi, atau peristiwa politik besar, banyak orang masih mencari informasi yang kredibel dan terkurasi dari saluran berita televisi. Ada sensasi immediacy dan authority yang kadang sulit didapatkan dari sumber-sumber digital yang (maaf) kadang campur aduk antara fakta dan hoaks.
Selain itu, acara-acara live seperti pertandingan olahraga, konser, atau penghargaan, masih punya daya tarik kuat di televisi. Sensasi menontonnya barengan, walaupun cuma di rumah masing-masing, tetap terasa berbeda. Televisi juga masih menjadi platform penting untuk edukasi publik, kampanye kesehatan, atau program-program kebudayaan yang mungkin tidak terlalu ‘viral’ di media sosial tapi punya nilai penting.
Bahkan, televisi juga ikut-ikutan digital. Banyak stasiun TV yang kini punya aplikasi sendiri, kanal YouTube, atau bahkan bekerja sama dengan platform streaming. Mereka sadar, penonton ada di mana-mana, dan mereka harus ikut hadir di sana. Ini bukan tentang televisi vs. internet, tapi lebih ke televisi yang berintegrasi dengan internet, menciptakan ekosistem media yang lebih kaya dan beragam. Jadi, kalau dulu dia cuma kotak ajaib di ruang tengah, sekarang dia adalah bagian dari ekosistem digital yang gak kalah ajaib.
Hari Televisi Sedunia: Refleksi dan Harapan
Jadi, di Hari Televisi Sedunia ini, mari kita sejenak berhenti dan merenungkan. Televisi memang pernah berjaya sebagai sumber hiburan dan informasi utama. Dia telah menemani kita dalam berbagai momen, dari yang paling bahagia sampai yang paling menyedihkan. Dia telah menjadi saksi bisu perubahan zaman, evolusi teknologi, dan pergeseran budaya.
Mungkin statusnya sekarang bukan lagi raja tunggal. Tahtanya harus berbagi dengan platform-platform digital yang tumbuh kayak kacang goreng. Tapi, dia tetap relevan, tetap menemukan jalannya sendiri, dan terus beradaptasi. Televisi itu ibarat kakek-nenek kita. Mungkin gak se-kekinian anak muda, tapi kebijaksanaan dan pengalamannya tetap punya nilai yang gak bisa digantikan.
Jadi, mari kita hargai kontribusi televisi dalam membentuk dunia kita. Bukan cuma sebagai alat, tapi sebagai bagian dari narasi panjang peradaban manusia dalam berkomunikasi dan berbagi cerita. Siapa tahu, di masa depan, televisi akan kembali bikin kita geleng-geleng kepala dengan inovasi-inovasi barunya. Selamat Hari Televisi Sedunia!
Next News

Menelusuri Jejak Sejarah Hari Migran Internasional: Mengapa 18 Desember Begitu Krusial bagi Dunia?
2 months ago

Hari Juang Kartika (15 Desember): Sejarah Heroik Palagan Ambarawa dan Makna 'Tentara Rakyat' TNI AD
2 months ago

Sejarah Hari Gunung Internasional (International Mountain Day): Kenapa 11 Desember Penting Banget?
2 months ago

Sejarah Hari Pencegahan Genosida Internasional dan Proses Pengesahannya
2 months ago

Sejarah Hari Armada Republik Indonesia dan Asal-Usul Penetapannya
2 months ago

Sejarah Hari Anti Korupsi Sedunia dan Mengapa Diperingati Setiap 9 Desember
2 months ago

Sejarah Hari Penerbangan Sipil Internasional
2 months ago

Sejarah Hari Tanah Sedunia dan Latar Belakang Penetapannya
2 months ago

Sejarah Hari Sukarelawan Internasional dan Makna Pentingnya bagi Dunia
2 months ago

4 Desember: Hari Krusial untuk Masa Depan Bumi
2 months ago